You are here:

Membangun 4 Pilar Bontang 2020

E-mail Cetak PDF

Sofyan Hasdam

The Inovator Leader

Director’s Note:

Ketika kami sedang sibuk menelusuri data-data prestasi para pemimpin bangsa di daerah, kami tertegun dengan rekomendasi yang muncul dari relasi kami di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Rekomendasi itu singkat dan sederhana. LeadershipPark sebaiknya melihat ke Bontang! Begitu katanya.

Maka dengan rekomendasi itu kami kemudian menugaskan tim survey untuk mendalami model kepemimpinan dan prestasi apa yang ada di Bontang. Selama lebih dari 3 bulan tim survey kami mengamati Bontang dan bagaimana kepemimpinan Bontang menyikapi permasalahan yang muncul disana. Salah satu masalah yang menonjol di Bontang tahun 2006 adalah adanya rencana pipanisasi dari Kalimantan Timur ke Jawa Tengah yang jelas-jelas akan mematikan kota ini. Tetapi masalah pipanisasi ini sementara berhasil ditahan, warga Bontang dan Kaltim terus berharap semoga dibatalkan.

Tetapi pengamatan kami bukan difokuskan pada masalah pipanisasi, namun masalah result leadership (kepemimpinan yang berorientasi hasil). Dengan setumpuk data dan pengamatan, kami temukan beberapa hal yang menarik. Temuan kami adalah, kota Bontang yang sangat kecil ternyata dikomandani oleh seorang pemimpin besar! Mengapa kami sebut kepemimpinan di Bontang sebagai pemimpin besar? Ada dua alasan.

Pertama yaitu bahwa pemimpin bangsa di daerah ini dengan kejujurannya telah memperoleh simpati masyarakat Bontang untuk memimpin Bontang kedua kalinya justru karena data masyarakat miskin kota meningkat. Mengapa data masyarakat miskin malahan meningkat di periode pertama kepemimpinan Sofyan Hasdam? Silahkan baca Inovasi Sofyan tentang Ukuran Data Kemiskinan Lokal.

Kedua, bahwa pemimpin ini telah menciptakan benchmark (titik ukur) atau inovasi-inovasi pengelolaan daerah yang pantas dicontoh oleh kepala daerah lain, terutama dalam pengelolaan pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar.

Silahkan simak.

 

Bila nanti bandara di Kota Samarinda sudah dioperasikan, bisa tidak perlu lagi menempuh hampir 5 jam jalan darat dari Bandara Sepinggan, Baikpapan. Tetapi jalan raya menuju Bontang dari Balikpapan, bisa disebut baik. Hanya sekitar 2 jam lepas dari Kota Samarinda jalan agak rusak. Jalan propinsi ini perlu diperlebar dan dipertebal karena frekuensi lalu lalang truk-truk industri. Kami menempuh perjalanan itu malam hari, mengamati kondisi jalan yang sepi tetapi aman walaupun masih sangat terbatas lampu-lampu jalan setidaknya di sudut-sudut tikungan yang berbahaya. Sopir kami yang cekatan bisa membawa kami dengan kecepatan yang mengagumkan.
Kesan pertama kami adalah kota Bontang ini kecil tetapi rapi dan bersih. Kami bisa melihat bahwa sepanjang jalan protokol dan jalan-jalan menuju hotel, kami tidak menemukan pemandangan tidak sedap berupa onggokan sampah atau onggokan barang bangunan seperti yang biasa kami temukan di Kota Bandung atau Kota Bekasi.
”Kalau mau melihat Kalimantan Timur di tahun 2020 bisa diharapkan seperti Singapore saat ini”. Demikian proyeksi walikota Bontang Sofyan Hasdam mengawali wawancara kita. Menurut Sofyan, fokus pada upaya pendidikan SDM (Sumber Daya Manusia) adalah prioritas utama pembangunan di Kalimantan Timur agar bisa memenuhi kecepatan pembangunan ekonomi. ”Masyarakat Kalimantan Timur ini seharusnya bersyukur dianugerahi sumber daya alam yang melimpah. Karena itu, kita musti membangun manusianya, agar bisa mengelola sumber daya alam yang melimpah itu dengan baik demi kesejahteraan Indonesia”
Untuk mencapai Bontang 2020, harus ada pilar-pilar praktis yang tersusun rapi dan membuahkan hasil sebagaimana milestone keberhasilan. Bisa merupakan capaian dari tahapan-tahapan target” Kata Sofyan melanjutkan pembicaraan bersama Direktur LeadershipPark di Kantor Pemkot Bontang, 17 Januari 2007. ”Untuk Bontang sendiri, kami sudah programkan 4 pilar pembangunan Kota Bontang. Pertama yaitu Bontang Sehat 2008, Bontang Cerdas 2010, Bontang Lestari 2010 dan Bontang Bebas Kemiskinan 2020.”  Ukuran dan pencangan target dengan batas waktu yang tegas dan jelas inilah kekuatan kepemimpinan Sofyan Hasdam yang dipercaya rakyat untuk memimpin Kota Bontang kedua kalinya.
Berbekal predikatnya sebagai dokter, Sofyan Hasdam menaruh perhatian besar dalam pembangunan kualitas manusia. Menurutnya, masyarakat Kalimantan Timur bisa dan harus sejahtera. Untuk sejahtera mereka harus terdidik. ”Pemerintah Kota Bontang selain memberikan pendidikan gratis 12 tahun, juga terus menerus memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada para tenaga pendidik dan pengelola sekolah dasar dan menengah. ”Saya tidak mau memberikan pendidikan gratis tetapi murahan. Walaupun gratis tetapi berkualitas. Itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.”  Ujar Sofyan.
Bagaimana bentuk aktualisasi kualitas yang dimaksudkan walikota Bontang? ”Misalnya, kita terbiasa mentargetkan siswa  naik kelas 100 persen. Sehingga anak didik yang rajin belajar dan pantas naik kelas karena nilainya baik kemudian akan merasa sia-sia karena temannya yang tidak belajar-pun juga naik kelas.” Kata Sofyan menanggapi pertanyaan kami mengenai bagaimana strategi peningkatan kualitas pendidikan dasar di Bontang.
”Jauh lebih murah kita siapkan subsidi kaca pecah dibanding mengorbankan kualitas pendidikan kita.” kata Sofyan sambil menceritakan bahwa dulu sering terjadi ketidakpuasan siswa dan orang tua bila tidak naik kelas dengan demo dan merusak kaca-kaca sekolah. Kami menangkap target walikota, bahwa kualitas diukur dengan perbandingan terhadap suatu standar dan bagaimana kita menentukan standar kualitas itulah yang akan membawa perubahan di masa depan. ”Dengan standar yang rendah, kita akan mendapatkan kualitas SDM yang rendah dan akan terus menerus begitu karena tidak ada keberanian untuk meningkatkan standar. Kebijakan ini adalah tantangan bagi warga Bontang”, tandasnya. Kepemimpinan Sofyan Hasdam telah menetapkan standar tinggi yang bisa dicapai: tidak bisa tidak kualitas SDM Kota Bontang harus meningkat.

Inovasi Sofyan 1 : Kreatifitas Pendidikan
Sore hari itu juga kami melaju ke SMP N2 untuk melihat kenyataan di lapangan. Ketika kami masuk lingkungan sekolah kebetulan hari itu masih libur sehingga kami tidak bisa bertemu dengan siswa-siswa. Tetapi kami diajak berkeliling oleh beberapa orang guru dan pengelola sekolah yang bertugas. Kami lihat lapangan tengah yang biasa dipakai upacara, sangat bersih, ada 4 tempat sampah kami temukan disekitar lapangan. Rumput dan tanaman ditata rapih. Tetapi kami sempat terperangah ketika memasuki ruang-ruang kelas. Walaupun dengan perabot meja dan kursi kelas bisa dibilang sederhana, tetapi begitu bersih, dan pencahayaan yang sangat baik. Dan bukan hanya itu! Dinding-dinding kelas itu didekorasi dengan gambar-gambar dan tulisan-tulisan besar (lihat foto).
“Itu adalah hasil kreatifitas siswa sendiri.” Kata salah seorang guru yang mendampingi kami. ”Walikota menetapkan kebijakan bantuan uang sebesar 200 ribu per kelas dan 5 juta per sekolah untuk menciptakan suasana belajar yang kreatif. Semua ruang kelas ini didekorasi sendiri oleh siswa dengan uang bantuan itu, para siswa  menambah sendiri kebutuhan untuk dekorasi itu” lanjutnya.
Jelas ini adalah perwujudan dari sebuah kebijakan yang berujung pada target peningkatan kualitas SDM. Hanya teorikah? Ternyata tidak, walikota Bontang benar-benar mengaktualisasikan konsepnya dengan cara yang praktis, terukur dan bisa diikuti dengan baik oleh segenap aparaturnya, termasuk tenaga pengajar dan sekaligus siswa-siswa sekolah. Sofyan menekankan pada seluruh jajaran aparatur dan masyarakat Kota Bontang, bahwa kreatifitas dalam segala bidang, termasuk penyampaian materi belajar, suasana belajar dan keleluasaan mengekspresikan diri para siswa, adalah hal penting dalam optimalisasi penyerapan ilmu.
Pemimpin ini juga mempersiapkan Bontang untuk memiliki SDM yang siap mendukung daerah kawasan perikanan. ”Suatu saat, industri berbasis gas di Kalimantan Timur akan habis, kita harus antisipasi hal ini dengan mempersiapkan potensi lain sehingga bila sumber daya alam tidak terbarukan ini habis, Bontang sudah memiliki kekuatan lain. Yaitu salah satunya adalah perikanan. Bontang ini memiliki luas laut yang lebih besar daripada daratan. Karena itu kita sedang menyiapkan SMK Perikanan untuk menyediakan SDM yang memadai dalam pengelolaan perikanan tangkap dan perikanan budi daya.” demikian Sofyan Hasdam mempertegas lagi misinya untuk membangun kualitas SDM Bontang.
Kebijakan yang bersumber dari ide-ide cerdas seolah mengalir tanpa henti dari sosok Sofyan Hasdam. Pemimpin ini berpandangan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak hanya melalui pendidikan. Tetapi, tidak kalah pentingnya adalah budaya hidup ”Coba kita lihat, dulu pasar-pasar begitu kumuh. Sampah teronggok dimana-mana. Biarpun pemerintah kota dibekali dengan truk-truk sampah modern dan tenaga yang lebih banyak, kita tidak akan mampu menangani kebersihan pasar-pasar itu. Maka kita perlu merubah sudut pandang kita sendiri. Masalah sampah adalah masalah kedisiplinan. Kedisiplinan dari para pelaku di pasar itulah yang menyebabkan pasar menjadi kumuh. Karena itu, kita tidak perlu menambah armada kebersihan, kita hanya perlu menciptakan disiplin mengelola sampah.” Papar Sofyan tegas.
Sofyan Hasdam, memulai karirnya sebagai Dokter disebuah puskesmas di Lospalos, Timor Timur. Ia mengaplikasikan ilmu kesehatan dalam pengelolaan kawasan sebagai bagian dari tugasnya sebagai Walikota Bontang. Ia tidak pernah melewatkan tugas-tugas yang disenanginya: memberikan penyuluhan langsung pada masyarakat untuk menyadarkan bagaimana pentingnya lingkungan sehat. “Lingkungan yang sehat diperoleh dengan budaya disiplin. Saya selalu mengajak masyarakat untuk terbiasa menghargai orang lain. Dengan membuang sampah sembarangan, itu berarti tidak menghargai orang lain. Kalau setiap orang membuang sampah di sembarang tempat, artinya orang-orang sudah tidak saling menghargai. Artinya tidak ada kesetiakawanan sosial.”
Bukti mengalir lagi dari apa yang dikatakan Sofyan. Ketika kami melihat ke pasar kota, kami tidak menemukan onggokan sampah dimanapun disudut pasar itu. Sampah dibuang pada tempatnya. Di Bontang, Para Leader jangan berharap melihat tumpukan sampah seperti di pasar-pasar di Bekasi atau Tangerang.

Inovasi Sofyan 2 : Puskesmas dan Dokter Keluarga
Puskesmas di Bontang, nanti tidak lagi melayani orang sakit. Fungsi puskesmas akan dikembalikan sebagaimana mestinya, yaitu fungsi penyuluhan masyarakat. ”Bagaimana Puskesmas bisa menjalankan fungsi utamanya, karena disibukkan dengan pengobatan orang sakit? Maka kita kembalikan ke 13 fungsi utama Puskesmas. Pengobatan orang sakit akan dijalankan oleh Dokter Keluarga.” Kata Sofyan.
Kebijakan ini sangat menarik, karena prestasi Dokter Keluarga nantinya diukur bukan dari berapa banyak ia mengobati orang sakit tetapi dari semakin sedikit orang sakit yang diobatinya. Dengan patokan satu dokter untuk melayani 3000 orang warga.
”Semakin sedikit orang sakit, semakin banyak Dokter Keluarga mendapatkan sisa uang. Kami menerapkan sistem prabayar untuk Dokter Keluarga. Dengan cara ini, semua unsur yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat akan saling mendukung dan berlomba meningkatkan kesehatan lingkungan sehingga semakin sedikit orang sakit di Bontang.” Jelas Sofyan. Program ini memang sedang diujicobakan dan keberhasilan program ini akan mendorong perubahan sistem pelayanan pengobatan nasional yang lebih baik.

Inovasi Sofyan 3 : Program Bedah Kampung
”Bontang ini dimasa depan adalah wilayah yang sehat, bersih dan indah.” Kata walikota, kelahiran Makassar ini. ”Untuk mencapai misi itu, kita mulai dari lingkungan-lingkungan kecil yang bisa dijangkau. Misalnya adalah dengan melakukan program Bedah Kampung. Program ini merenovasi rumah-rumah kumuh, membangun sanitasi yang baik, jalan lingkungan yang lega dan rapi. Dan itu kita berikan gratis kepada warga. Mereka membantu dengan tenaga dan merawatnya kemudian.” Jawab Sofyan ketika kami tanyakan apa langkah praktisnya.
”Tetapi, program bedah kampung sebenarnya bukan hanya fisik saja. Karena kalau hanya masalah fisik beberapa bulan setelah kami bantu renovasi, mereka akan kembali ke pola hidup yang lama. Dan kekumuhan mucul lagi. Maka sebenarnya masalah kawasan kumuh selain disebabkan masalah ekonomi adalah juga masalah budaya. Inilah yang selalu saya tekankan pada jajaran Pemkot, agar minimal seminggu sekali mengunjungi dan memberikan penyuluhan agar budaya hidup sehat benar-benar terwujud.”
Sore hari itu pula, kami meninjau Kelurahan Berbah Pantai, tempat dimana sedang dilakukan Program Bedah Kampung. Inti dari program ini adalah bantuan renovasi rumah sehat plus pendidikan masyarakat untuk berbudaya hidup sehat. Direncanakan Menteri Sosial akan mengunjungi tempat ini di bulan Februari 2007. Menurut Sofyan, program bedah kampung adalah aktualisasi kesetiakawanan sosial yang dicurahkan oleh Pemkot Bontang. Tidak salah memang, Sofyan Hasdam menerima penghargaan Setiakawan Award dari Menteri Sosial dalam rangka Hari Kesetiakawanan Sosial yang diperingati di Solo, 20 Desember 2006 yang lalu.

Inovasi Sofyan 4 : Program Black Award
Setiap 6 bulan sekali pemkot Kota Bontang mengevaluasi setiap kecamatan dan kelurahan di seluruh Kota Bontang dalam segi pengelolaan kesehatan lingkungan. Mereka akan dinilai dari apakah kawasan menjadi kumuh ataukah meningkat kebersihannya? Nah, kecamatan dan kelurahan yang mendapatkan nilai dibawah 200 akan mendapatkan Black Award. Penghargaan hitam bagi yang melalaikan kesehatan lingkungan. ”Dengan cara ini, warga berlomba-lomba menjaga lingkungan karena khawatir predikat Black Award dianugerahkan kepada mereka”. Kata Sofyan renyah.

Inovasi Sofyan 5 : Ukuran Data Kemiskinan Lokal
“Jujurlah pada diri sendiri. Saya selalu sampaikan kata-kata itu pada dinas-dinas. Bahwa saya tidak percaya dengan data-data orang miskin yang ada. Dengan data itu, menurut BPS, orang miskin di Kota Bontang sejumlah 7.000 orang.” Kata Sofyan.
”Saya kemudian bersama jajaran Dinas Pemkot menganalisa dan menetapkan ukuran untuk mendata berapa banyak sebenarnya orang miskin di Kota Bontang. Ukuran itu mencantumkan kriteria miskin sesuai persepsi kita mengenai orang miskin. Salah satu contoh, misalnya adanya anggapan bahwa orang miskin itu tinggal dirumah yang tidak berlantai semen. Tetapi bukankah sebenarnya cukup banyak orang yang menjadi miskin ketika ia di PHK? Maka walaupun ia punya rumah cukup bagus tetapi miskin karena tidak bisa membiayai anaknya berobat ke dokter. Nah kami menetapkan ukuran baru untuk menghitung berapa orang miskin di Kota Bontang. Ternyata kami mendapatkan jumlah 19.000 lebih orang miskin. Sangat jauh beda dengan data lama.”
Sofyan menegaskan bahwa data kemiskinan mustinya diukur dari indikator ukuran yang diperbaharui dan sesuai dengan situasi dan kondisi lokal. Langkah ini membantu setiap dinas menyadari urgensi peningkatan derajat kehidupan warga. Langkah Sofyan menggunakan pengukuran data orang miskin dengan indikator kriteria lokal adalah inovasi yang bisa dan sebaiknya diadopsi oleh daerah lain. Standar untuk mengukur bisa jadi berbeda dari ukuran nasional yang dilakukan oleh BPS. Namun bukan masalah menurut kami, tetapi keberanian ini justru menjadi tantangan kepemimpinan untuk menerapkan target tinggi demi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.

Penghargaan dari Men.PAN: Citra Pelopor Inovasi Pelayanan Prima
Kami menilai, bahwa Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara menganugerahkan penghargaan Citra Pelopor Inovasi Pelayanan Prima (Desember 2006) kepada Sofyan Hasdam bersama 9 kepala daerah yang lain, adalah tepat. Inovasi-inovasi yang dilakukan Sofyan telah memberikan pencerahan baru bagi kepemimpinan yang berorientasi perbaikan pelayanan publik. Kami mengucapkan salut bagi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Bapak Taufiq Effendi beserta segenap jajarannya, khususnya Sesmenpan, Bapak Edi Topo dan Deputi Pelayanan Publik, Bapak Cerdas Kaban.
Apresiasi bagi Sofyan Hasdam juga diberikan dari LeadershipPark Institute bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dengan penghargaan Leadership Award 2006.
Kesimpulan kami, kepemimpinan Sofyan Hasdam telah mendorong banyak perubahan positif yang pantas disumbangkan bagi khasanah kepemimpinan dan manajemen pengelolaan pemerintah daerah. Sosok Sofyan Hasdam, telah memberikan bukti kepemimpinan berorientasi hasil bagi Kota Bontang. Seorang pemimpin bagus yang didukung oleh jajaran aparatur yang bagus yang mampu memberikan informasi dan mengaktualisasikan kebijakan dengan cara hebat.
Ya, sebagaimana kami melihat Sofyan Hasdam dengan keberaniannya menerapkan standar tinggi demi pencapaian keberhasilan kepemimpinan di Kota Bontang. Rakyat Kaltim musti bangga memiliki sosok Sofyan Hasdam.

Danang Girindrawardana

 


Newer news items:

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 08 Desember 2009 06:33 )